Mendaki Gunung Argopuro Probolinggo, Pemuda 22 Tahun Asal Sumenep Meninggal Diduga Hipotermia
Kejadian Naas di Puncak Gunung Argopuro
Pendaki asal Sumenep, Madura, Jawa Timur, meninggal dunia saat mendaki Gunung Argopuro di Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo. Korban yang berusia 22 tahun ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa oleh tim SAR (Search and Rescue) setelah melakukan pencarian selama beberapa jam. Menurut informasi yang diperoleh, korban diduga meninggal akibat hipotermia, yaitu kondisi tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada menghasilkan panas, sehingga suhu tubuh turun di bawah normal. Korban yang bernama M. Fajar Shiddiq (22) asal Desa Batuampar, Kecamatan Batuampar, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, melakukan pendakian Gunung Argopuro bersama beberapa temannya pada hari Sabtu, 17 Februari 2024. Mereka memulai pendakian dari pos pemeriksaan di Desa Krucil, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo, sekitar pukul 08.00 WIB. Awalnya, cuaca cukup cerah dan kondisi jalan setapak menuju puncak gunung terlihat aman. Namun, sekitar pukul 12.00 WIB, cuaca berubah menjadi hujan deras disertai petir, sehingga visibilitas menurun drastis.Pencarian dan Penemuan Korban
Saat cuaca memburuk, korban dan teman-temannya berusaha mencari tempat berteduh. Namun, korban terpisah dari kelompoknya dan tidak dapat ditemukan. Teman-teman korban kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada petugas pos pemeriksaan dan meminta bantuan tim SAR. Tim SAR dari Basarnas (Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan) Kabupaten Probolinggo segera diterjunkan ke lokasi kejadian untuk melakukan pencarian korban. Pencarian korban dilakukan di sekitar jalur pendakian Gunung Argopuro, termasuk di area yang sulit dijangkau dan berbahaya. Tim SAR menggunakan peralatan canggih, seperti drone dan GPS, untuk mempersempit lokasi pencarian. Setelah beberapa jam melakukan pencarian, sekitar pukul 16.00 WIB, tim SAR menemukan korban dalam kondisi tidak bernyawa di kawasan hutan pinus, sekitar 2 kilometer dari puncak Gunung Argopuro.Penyebab Kematian Korban
Menurut keterangan dari tim SAR, korban diduga meninggal akibat hipotermia. Hipotermia adalah kondisi tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada menghasilkan panas, sehingga suhu tubuh turun di bawah normal. Kondisi ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti suhu lingkungan yang rendah, kelembaban tinggi, dan kurangnya perlengkapan pendakian yang memadai. Dalam kasus korban, diduga bahwa ia tidak menggunakan pakaian yang cukup hangat dan tidak membawa perlengkapan pendakian yang memadai, seperti sleeping bag dan jaket windbreaker. Selain itu, cuaca yang buruk dan hujan deras juga dapat menyebabkan korban kehilangan panas tubuh lebih cepat. Tim SAR juga menemukan bahwa korban tidak memiliki pengalaman pendakian yang cukup, sehingga ia tidak dapat menghadapi kondisi cuaca yang buruk dengan baik.Reaksi Keluarga Korban
Keluarga korban sangat terpukul atas kejadian naas tersebut. Ayah korban, H. Muhammad, mengatakan bahwa ia sangat sedih dan terkejut atas kematian putranya. "Saya tidak menyangka bahwa putra saya akan meninggal saat mendaki gunung. Saya berharap putra saya dapat kembali dengan selamat," ujarnya. Ibu korban, Hj. Nurjanah, juga mengatakan bahwa ia sangat sedih dan merasa kehilangan. "Saya sangat sedih dan merasa kehilangan putra saya. Saya berharap putra saya dapat kembali dengan selamat dan dapat melanjutkan pendidikannya," ujarnya.Upaya Pencegahan Kecelakaan
Kejadian naas tersebut dapat dicegah dengan beberapa upaya pencegahan. Pertama, pendaki harus memiliki pengalaman pendakian yang cukup dan memahami kondisi cuaca yang buruk. Kedua, pendaki harus menggunakan perlengkapan pendakian yang memadai, seperti pakaian hangat, sleeping bag, dan jaket windbreaker. Ketiga, pendaki harus membawa peralatan komunikasi yang memadai, seperti handphone dan radio two-way, untuk dapat menghubungi tim SAR dalam keadaan darurat. Selain itu, pemerintah daerah dan instansi terkait juga harus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya pendakian gunung dan pentingnya menggunakan perlengkapan pendakian yang memadai. Mereka juga harus menyediakan fasilitas pendakian yang memadai, seperti pos pemeriksaan dan jalur pendakian yang aman, untuk dapat mencegah kecelakaan pendakian. Dalam kesimpulan, kejadian naas tersebut dapat menjadi pelajaran bagi kita semua tentang pentingnya keselamatan pendakian gunung. Pendaki harus memiliki pengalaman pendakian yang cukup, menggunakan perlengkapan pendakian yang memadai, dan membawa peralatan komunikasi yang memadai untuk dapat mencegah kecelakaan pendakian. Selain itu, pemerintah daerah dan instansi terkait juga harus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya pendakian gunung dan pentingnya menggunakan perlengkapan pendakian yang memadai.Ilustrasi - Redaksi Jumper Media Jawa Timur
0 Komentar